WEDANGAN
LAWANG DJOENDJING DENGAN SENI UNIK
Pertama kali yang
terlihat saat menuju Lawang Djoendjing adalah pintu besar yang tingginya tidak
sama itulah sebabnya dijuluki Lawang Djoenjing. Desain yang kental dengan seni
ini menghiasi wedangan tersebut. Banyak sekali view yang dapat untuk berswafoto
oleh pengunjung. Selain itu terdapat pula tempat untuk rapat. Kaca untuk bercermin pun dibuat jonjeng. Lawang Djoendjing
berlokasi di bilangan Kadipiro, Solo yang bermulai dari awal 2016.
Lawang Djoendjing pun
menyajikan makanan yang kerapkali disebut HIK (Hidangan Istimewa Masyarakat).
Banyak sekali jenis nasi nya antara lain : nasi sayur, nasi teri, nasi ayam
rica, nasi telur, nasi jamur, nasi goreng dan lain-lain. Lebih dari 8 jenis
sate pula yang disajikan di sana, cemilan pun juga banyak jenisnya. Minumannya
antara lain wedang jahe, wedang jeruk, teh, aneka jus, cokelat , vanilla. Harga
yang ditawarkan mulai dari Rp. 4000. Pengunjung dapat memilih sendiri makanan
yang akan disantap lalu pembayaran ke kasir barulah menikmati makanan sembari
menikmati suasana senin yang ada.
Wedangan
dengan desain seni unik ini sudah banyak pengunjung sedari dibukannya
wedangan tersebut. Mulai dari anak muda hingga dewasa, acara anak muda
atau pun keluarga. Selain tempatnya yang unik dapat juga digunakan untuk
makan bersama keluarga. Lawang Djoendjing sendiri bangunanya terdapat
lantai 2 nya , Pengunjung dapat menunaikan ibadah sholat di mushola yang
terdapat di lantai 2.
Hardi Deras , lulusan
Seni Rupa ISI Solo pemilik Lawang Djoendjing yang berasal dari Klaten mengawali
bisnisnya dengan sablon spanduk yang mana berawal dari tugas kuliah praktek
kemudian menimbulkan ketertarikan untuk lebih mendalami dan memantapkan hati
untuk menekuni bidang yang disukai menjadi binis yang menghasilkan. Hardi Deras
sudah mempunyai 100 titik dari Ngawi , Purworejo titik iklannya tentang Lawang
Djoendjing. ( Imay Fajar )
